Dipilih, Diurapi, Lalu Ditolak Tuhan (Patah Hati Terbesar dalam Hidup Seseorang)

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel, Artikel33 Dilihat

Jika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan, rasa kecewa itu nyata. Hati menjadi perih, pikiran tidak tenang, dan sering kali seseorang berusaha menghindari pertemuan dengan orang yang menolak cintanya dengan pura-pura terlihat sibuk atau larut dengan kesibukan dan banyak aktivitas. Ada orang yang kondisi fisik atau mentalnya menurun karena patah hati akibat penolakan tersebut bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit atau menjadi depresi akibat cintanya tidak bersambut alias ditolak. Penolakan manusia saja bisa melukai begitu dalam, lalu bagaimana jika seseorang mengalami penolakan dari Tuhan?

Sudah pasti bukan sekadar patah hati biasa. Ini adalah patah hati terbesar dalam hidup manusia.

Alkitab mencatat sebuah kisah yang sangat serius tentang  kisah Saul. Ia bukan orang sembarangan. Ia adalah orang pilihan. Tuhan yang memilih Saul untuk menjadi Raja Israel. Ia mengalami perjalanan hidup yang sangat kontras. Awalnya ia dipilih, diurapi, lalu ditolak oleh Tuhan. Ia dipilih langsung oleh Tuhan untuk menjadi raja atas Israel. Ia diurapi, dipakai, dihormati, dan diberi otoritas besar. Namun pada akhirnya, ia mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. Ia ditolak oleh Tuhan sendiri.

Kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan peringatan serius bagi setiap kita agar hidup takut akan Tuhan dan taat apa yang Tuhan perintahkan.

Dipilih Tuhan adalah Awal yang Penuh Anugerah

Saul tidak menjadi raja karena ambisi pribadinya. Semua berawal dari pilihan Tuhan. Awalnya Saul tidak percay dan menyangka kalau Tuhan memilihnya untuk menjadi Raja Israel.

“Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang dari tanah Benyamin; engkau harus mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel…” (1 Samuel 9:16)
Kemudian Samuel taat perintah Tuhan dan pergi untuk mengurapi Saul.

1 Samuel 10:1

“Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: ‘Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?’”
Bahkan seluruh bangsa Israel mengetahui bahwa Saul adalah pilihan Tuhan.

1 Samuel 10:24

“Kata Samuel kepada seluruh rakyat itu: ‘Lihatlah orang yang dipilih TUHAN ini; bukankah tidak ada seorang pun yang sama seperti dia di antara seluruh rakyat itu?’ Lalu bersorak-sorailah seluruh rakyat itu, katanya: ‘Hidup raja!’”
Saul memulai hidupnya dengan kasih karunia. Ia dipilih bukan karena paling layak, tetapi karena Tuhan berkenan memilihnya. Ini mengingatkan kita bahwa setiap panggilan Tuhan dalam hidup seseorang selalu dimulai dengan anugerah.

Namun anugerah itu harus dijaga dengan ketaatan penuh. Tidak bisa kompromi dengan dosa sekecil apapun.

Ketika Bertindak Menurut Pikiran Sendiri

Dalam perjalanan hidupnya, Saul mulai berubah. Ia tidak lagi sepenuhnya menunggu Tuhan. Ia mulai bertindak menurut pikirannya sendiri. Mungkin karena ia merasa bahwa sekarang adalah ia seorang raja yang memiliki otoritas untuk mengambil keputusan. Saul lupa bahwa posisi ataupun otoritasnya tidak lebih tinggi dari perintah atau hukum Tuhan Sang Pecipta alam semesta yang sudah memilihnya menjadi seorang raja.

Kegagalan pertama Saul dimulai ketika ia tidak sabar menunggu Samuel dan mengambil tindakan yang seharusnya bukan tugasnya sehingga Samuel marah.

Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.
Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”  (1 Samuel 13-14)

Sering kali kejatuhan besar dimulai dari ketidaktaatan kecil yang dibiarkan dan dianggap sepele. Dan hal ini perlu diwaspadai orang percaya.

Ketaatan Tidak Boleh Setengah-Setengah

Ketaatan yang dilakukan setengah-setengah atau hanya dilakukan sebagian saja sama dengan tidak taat di mata Tuhan.

Ketidaktaatan kedua yang diperbuat Saul terjadi ketika Tuhan memerintahkan untuk menumpas Amalek sepenuhnya. Namun Saul tidak melakukan semua perintah Tuhan.

“Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. ” (1 Samuel 15:9)
Saul hanya taat sebagian. Ia tidak taat sepenuhnya. Ia memilih apa yang ingin ia taati dan apa yang ingin ia simpan.

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan banyak orang. Mau taat, tetapi hanya yang mudah. Mau mengikuti firman Tuhan, tetapi hanya yang sesuai keinginannya. Mau memberi kepada Tuhan, tetapi tetap menyimpan yang terbaik bagi diri sendiri.
Saul bahkan mencoba memberikan alasan yang terlihat rohani. Tetapi Tuhan tidak melihat alasan, Tuhan melihat ketaatan.

Lalu Samuel menyampaikan teguran yang sangat tegas.

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” (1 Samuel 15:22-23)

Di sinilah semuanya berakhir. Bukan karena Saul tidak melakukan apa-apa, tetapi karena ia tidak melakukan semuanya sesuai kehendak Tuhan. Taat hanya sebagian saja tetap dianggap menolak firman Tuhan.

Babak yang Paling Menyedihkan dan Tragis

Babak ini adalah yang paling menyedihkan dalam kisah Saul. Tuhan yang awal memilihnya, kini menyatakan penolakan terhadapnya.

” Tetapi jawab Samuel kepada Saul: “Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel. (1 Samuel 15:26a)

Bahkan di 1 Samuel 15:11 Tuhan berkata kepada Samuel, “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Saul masih duduk di tahta untuk sementara waktu, tetapi ia sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting yaitu perkenanan Tuhan.

Dan dampaknya yang nyata adalah “Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN.” (1 Samuel 16:14).

Inilah tragedi besar dalam hidup Saul. Ia dipilih, diurapi, lalu ditolak Tuhan.

Dipakai Tuhan Bukan Berarti ‘Aman’

Kisah Saul menjadi peringatan bagi kita semua. Seseorang bisa saja dipilih Tuhan, dipakai Tuhan, memiliki pelayanan, dikenal banyak orang, namun itu tidak menjamin ia tetap berkenan di hadapan Tuhan jika ia tidak taat. Tuhan tidak melihat seberapa besar pelayanan kita, berapa banyak jemaat, atau berapa banyak kita memberi persembahan, tetapi seberapa kita taat terhadap perintah-perintah-Nya.

Jika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan, rasa kecewa itu nyata. Hati menjadi perih, pikiran tidak tenang, bahkan sering kali seseorang berusaha menghindari pertemuan dengan orang yang menolak cintanya. Penolakan manusia saja bisa melukai begitu dalam, lalu bagaimana jika seseorang mengalami penolakan dari Tuhan?

Ini bukan sekadar luka hati biasa. Ini adalah patah hati terbesar dalam hidup manusia.

Banyak orang takut ditolak manusia, namun sedikit orang yang benar-benar takut ditolak Tuhan. Padahal penolakan Tuhan adalah kehilangan dan kemalangan yang paling besar. Jika manusia menolak kita, kita masih bisa bangkit dan melanjutkan kehidupan kita serta bisa menemukan orang lain yang lebih baik dan menerima mau diri kita dengan tulus. Namun jika Tuhan yang menolak kita, siapa yang bisa menyelamatkan atau membela kita?

Kisah Yang Berakhir Tragis

Saul mengalami hal yang sangat tragis dalam hidupnya. Ini menjadi peringatan bagi kita agar berhati-hati dalam mengambil keputsan dan belajar taat.

Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan untuk bertobat, merendahkan diri, datang kembali kepada Tuhan.

Jika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan, rasa kecewa itu nyata. Hati menjadi perih, pikiran tidak tenang, bahkan sering kali seseorang berusaha menghindari pertemuan dengan orang yang menolak cintanya. Penolakan manusia saja bisa melukai begitu dalam, lalu bagaimana jika seseorang mengalami penolakan dari Tuhan?

Ini bukan sekadar patah hati biasa. Ini adalah patah hati terbesar dalam hidup manusia.

Alkitab mencatat sebuah kisah yang sangat serius tentang hal ini: kisah Saul. Ia bukan orang sembarangan. Ia mengalami perjalanan yang sangat kontras; dipilih, diurapi, lalu ditolak. Ia dipilih langsung oleh Tuhan untuk menjadi raja atas Israel. Ia diurapi, dipakai, dihormati, dan diberi otoritas besar. Namun pada akhirnya, ia mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. Ia ditolak oleh Tuhan sendiri.

Kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan peringatan keras bagi setiap orang percaya termasuk kita.

Penutup

Patah hati karena manusia memang menyakitkan. Tetapi patah hati karena ditolak Tuhan adalah kehancuran yang sesungguhnya.

Kisah Saul mengingatkan kita bahwa Tuhan yang memilih, Tuhan juga bisa menolak. Jangan sampai hidup kita seperti ini dipilih, diurapi, lalu ditolak Tuhan.

Karena itu hendaklah tetap rendah hati, taat sepenuhnya dan selalu takut akan Tuhan. Pada akhirnya, yang paling berharga bukan apa yang sudah kita miliki, tetapi apakah Tuhan berkenan atas hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *