Resolusi 2026 atau Agenda Tuhan? Refleksi Iman di Bulan Kedua Tahun 2026

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel79 Dilihat

Memasuki awal tahun hampir selalu identik dengan satu kata: resolusi. Target baru. Rencana baru. Harapan baru. Kita menuliskan daftar impian—karier, pelayanan, keluarga, usaha, dan masa depan.

Namun muncul satu pertanyaan penting yang jarang kita renungkan dengan jujur:

Apakah resolusi kita sungguh-sungguh lahir dari Tuhan atau hanya dari keinginan pribadi?

Banyak orang sibuk menyusun agenda hidup ketika memasuki awal tahun 2026 ini. Ada yang hanya sekadar ikut trend, ingin pamer, ingin terlihat rohani atau ajang pembuktian diri kepada orang lain tanpa melibatkan Tuhan sehingga ada orang-orang yang hanya bertahan beberapa hari atau beberapa minggu atau hanya satu sampai dua bulan dalam menjalankan resolusinya tersebut.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak semua rencana yang disusun otomatis sejalan dengan kehendak-Nya.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21)

Ayat ini tidak melarang kita membuat rencana. Namun ayat ini menegaskan satu hal: yang menentukan hasil akhir bukanlah seberapa hebat resolusi kita, melainkan kehendak Tuhan.

Resolusi Itu Baik — Tetapi Kadang Tidak Cukup

Membuat resolusi bukanlah sesuatu yang salah. Kita perlu visi, target, dan perencanaan.

Tetapi ada bahaya yang sangat halus, yakni kita menyusun rencana hidup, lalu meminta Tuhan memberkati apa yang sudah kita tetapkan.

Bukan bertanya: “Tuhan, apa yang Engkau mau aku lakukan di tahun ini? Apa agenda-Mu yang harus saya kerjakan di tahun ini?”

Melainkan berkata tanpa sadar bersikap, “Tuhan, ini rencanaku. Tolong dukung.”

Firman Tuhan berkata: “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3)

Perhatikan urutannya. Bukan rencana dulu – lalu Tuhan menyusul. Tetapi serahkan dulu kepada Tuhan – baru rencana itu berjalan.

Masalah Utama Bukan Kurang Rencana, Tetapi Kurang Penyerahan

Banyak orang Kristen sebenarnya rajin merencanakan, tetapi jarang sungguh-sungguh menyerahkan.

Penyerahan bukan sekadar berdoa dan beriman segera terjadi. Penyerahan berarti:

  • siap jika Tuhan mengubah arah,
  • siap jika Tuhan menunda,
  • siap jika Tuhan menutup pintu yang selama ini kita perjuangkan.

Yesus sendiri mengajarkan sikap ini:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah  kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42)

Inilah inti kehidupan rohani: bukan sekadar mencapai impian, tetapi taat kepada kehendak Bapa.

Mengikuti Agenda Tuhan Sering Kali Tidak Nyaman

Agenda Tuhan tidak selalu sejalan dengan rencana dan keinginan pribadi. Kadang Tuhan membawa kita ke jalur yang:

  • tidak populer,
  • tidak cepat,
  • tidak terlihat menguntungkan,
  • bahkan membuat kita harus melepaskan sesuatu atau hal-hal yang kita sukai.

Firman Tuhan berkata:

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

Mengikuti agenda Tuhan berarti berhenti menjadikan logika, kenyamanan, dan ambisi pribadi sebagai pusat keputusan.

Resolusi Tanpa Tuhan Bisa Terlihat Sukses, Tetapi Kosong

Tidak sedikit orang berhasil mencapai target, namun kehilangan damai sejahtera. Berhasil secara angka, tetapi lelah dan hampa secara jiwa.

Yesus mengingatkan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya”. (Markus 8:36)

Jadikan tahun 2026 ini tidak hanya menjadi tahun pencapaian, tetapi juga tahun ketaatan karena tanpa ketaatan tidak mungkin seseorang berkenan kepada Tuhan.

Yang Perlu Kita Renungkan Saat Ini

Bukan hanya: Bagaimana target saya tahun ini bisa tercapai?

Tetapi lebih dalam:

  • Apakah rencana ini mendekatkan saya kepada Tuhan?
  • Apakah ini menumbuhkan karakter, bukan hanya reputasi?
  • Apakah ini membangun Kerajaan Allah, bukan hanya kerajaan pribadi?

Rasul Paulus mengingatkan: “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7)

Lalu, Apakah Kita Tidak Perlu Membuat Resolusi 2026?

Kita tetap boleh membuat resolusi.Tetapi resolusi orang percaya seharusnya lahir dari satu sikap yaitu mencari kehendak Tuhan lebih dulu.

Firman Tuhan berkata: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Inilah perbedaan besar antara sekadar membuat resolusi deng memilih mengikuti agenda Tuhan.

Resolusi berfokus pada “apa yang ingin saya capai”. Agenda Tuhan berfokus pada “apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui hidup saya”.

Penutup

Di Tahun 2026 ini, mungkin resolusi terbaik bukan daftar panjang target, melainkan satu komitmen sederhana:

“Tuhan, pimpinlah hidupku.”

Karena ketika Tuhan memimpin, maka:

  • arah menjadi jelas,
  • langkah menjadi tepat,
  • dan hasil hidup menjadi bermakna.

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.” (Yesaya 48:17)

Biarlah tahun ini bukan sekadarmemintaTuhan agar memberkati agenda kita, melainkan bagaimana kita mau dan taat berjalan di dalam agenda Tuhan. Karena kalau kita berjalan dalam agenda-Nya Tuhan, maka kita akan dimampukan Tuhan, akan ada pertolongan, perlindungan, pembelaan, mujizat dan perkenanan Tuhan yang selalu menyertai setiap langkah kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *