Setia Sampai Akhir: Jangan Salah Pilih Pasangan Hidup

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel35 Dilihat

Pernikahan bukan sekadar tentang cinta, tetapi tentang komitmen seumur hidup. Di zaman ketika kesetiaan semakin langka dan perselingkuhan sering dianggap hal yang biasa, memilih pasangan hidup bukanlah keputusan yang boleh dibuat dengan tergesa-gesa. Satu pilihan yang salah bisa membawa luka panjang, tetapi satu pilihan yang benar bisa menjadi berkat seumur hidup.

Izinkan saya membagikan sedikit perjalanan hidup saya. Apa yang saya tuliskan di sini bukan hanya prinsip yang saya pelajari dari buku atau khotbah, tetapi sesuatu yang saya hidupi sendiri bersama almarhum suami saya.

Suami saya adalah seorang suami yang takut Tuhan, bertanggung jawab, berwajah tampan, jujur, sangat mengasihi istri dan setia sampai akhir hidupnya. Namun yang paling saya syukuri bukanlah ketampanannya, melainkan komitmennya. Dalam rumah tangga kami, tidak pernah ada yang namanya perselingkuhan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Suami saya bukan pria yang sempurna, demikian juga saya bukan istri yang sempurna. Kami pernah berbeda pendapat. Kami pernah menghadapi tekanan hidup. Tetapi satu hal yang tidak pernah kami lepaskan adalah komitmen untuk tetap setia satu sama lain.

Di tengah dunia yang menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang lumrah, saya bersyukur pernah berjalan bersama seorang pria yang menjaga hatinya. Ia tidak membuka celah untuk orang ketiga. Ia menjaga batasan. Ia menghormati pernikahan kami. Dari situlah saya belajar bahwa kesetiaan bukan soal tidak adanya kesempatan, tetapi soal keputusan untuk tidak menyalahgunakan kesempatan.

Hari ini, ketika saya menulis tentang pentingnya memilih pasangan hidup dengan benar dan menjaga pernikahan sampai akhir, saya menulis dengan hati penuh syukur. Saya sudah merasakan sendiri betapa indahnya memiliki pasangan yang memilih setia sampai napas terakhirnya. Kami bukan pasangan yang sempurna, tetapi kami memilih untuk setia sampai akhir.

Kesetiaan itu nyata. Kesetiaan itu mungkin. Dan saya menjadi saksi bahwa ketika dua orang berkomitmen hidup dalam kebenaran, Tuhan sanggup menjaga pernikahan itu sampai akhir.

Ada empat nilai yang kami terapkan dalam rumah tangga kami:

1. Firman Tuhan Harus Menjadi Standar Kehidupan Rumah Tangga

Rumah tangga yang kuat tidak dibangun di atas perasaan, melainkan di atas kebenaran firman Tuhan. Perasaan bisa berubah, tetapi kebenaran firman Tuhan tidak akan berubah.

Sejak awal pernikahan, suami saya berkata bahwa rumah tangga kami harus dibangun di atas standar dan fondasi firman Tuhan. Dalam Matius 7:24 tertulis: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”

Rumah yang dibangun di atas batu tidak roboh ketika badai datang. Demikian juga rumah tangga yang dibangun di atas firman Tuhan tidak mudah runtuh ketika konflik muncul.

Banyak pasangan menikah hanya berdasarkan cinta, harta, status, kecocokan hobi dan karakter, atau demi gengsi. Namun tanpa standar kebenaran yang jelas, masing-masing akan membawa ego dan kebenaran sendiri. Ketika terjadi perbedaan pendapat, siapa yang menjadi penentu benar dan salah? Jika standar hanya perasaan,  maka yang kuat akan menekan yang lemah.

Firman Tuhan mengajarkan kasih, kesabaran, pengampunan, kesetiaan, dan tanggung jawab. Jika suami dan istri sama-sama tunduk pada firman, mereka tidak lagi berdebat untuk memenangkan diri sendiri, tetapi belajar untuk menyenangkan hati Tuhan. Suami saya bukan hanya seorang pengkhotbah atau pengajar namun beliau juga melakukan apa yang beliau khotbahkan dan ajarkan sehingga menjadi teladan bagi saya sebagai istrinya.

Rumah tangga yang berlandaskan firman Tuhan memiliki arah yang jelas. Bukan sekadar bertahan, tetapi bertumbuh. Bukan sekadar bersama, tetapi benar-benar bersatu. Bukan lagi dua tetapi sudah menjadi satu seperti yang firman Tuhan katakan, “Dan firman-Nya: sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” (Matius 19:5-6)

2. Keterbukaan dengan Pasangan

Banyak rumah tangga hancur bukan karena masalah besar, tetapi karena kebohongan kecil yang terus dibiarkan. Ada yang memilih diam demi menghindari pertengkaran. Padahal diam yang terlalu lama justru menjadi bom waktu.

Keterbukaan adalah fondasi kepercayaan. Tanpa kepercayaan, hubungan dipenuhi kecurigaan. Tanpa kejujuran, hati mulai menjauh meskipun masih tinggal dalam satu rumah.

Kitab Lukas 8:17 berkata, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan”.

Kami membiasakan diri untuk terbuka dalam segala hal: masa lalu, keuangan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan pergumulan pribadi. Kami bisa saling menggunakan telepon genggam satu sama lain tanpa rasa curiga. Kami saling mengetahui kondisi keuangan masing-masing. Jika suami ingin membantu seseorang secara finansial, ia selalu berdiskusi terlebih dahulu dengan saya. Demikian pula dengan saya.

Pasangan hidup adalah teman seperjalanan, bukan musuh. Jika ada masalah, bicarakan. Jika ada luka, sampaikan. Jika ada kekhawatiran, ungkapkan. Keterbukaan menjaga hati tetap dekat dan mencegah orang ketiga masuk ke ruang yang seharusnya hanya milik pasangan.

3. Jangan Menyimpan Amarah

Amarah yang disimpan akan berubah menjadi kepahitan, dan kepahitan perlahan menggerogoti kasih.

Dalam Efesus 4:26 tertulis:

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”

Marah adalah hal yang manusiawi. Tetapi marah yang dibiarkan berlarut-larut membuka celah bagi dosa.

Jika kami memiliki masalah di hari itu, suami saya biasanya berinisiatif meminta maaf lebih dahulu, bahkan ketika sebenarnya saya yang bersalah. Ia sering mengingatkan agar kami tidak tidur dalam keadaan marah. Karena itu, kami membiasakan diri membereskan masalah dan saling meminta maaf sebelum tidur.

Mengampuni bukan berarti melupakan begitu saja, tetapi memilih untuk tidak menjadikan kesalahan sebagai senjata di kemudian hari. Jika ada konflik, selesaikan segera. Rendahkan hati untuk meminta maaf dan memaafkan.

4. Jangan Membuka Celah untuk Orang Ketiga

Ibrani 13:4 berkata, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.”

Perselingkuhan jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai dari celah kecil yang dibiarkan.

Celah itu bisa berupa komunikasi yang terlalu intens dengan lawan jenis, curhat masalah rumah tangga kepada orang yang salah, atau mencari perhatian di luar saat merasa kurang diperhatikan di rumah.

Suami saya hampir selalu mengajak saya ke mana pun ia pergi, termasuk saat pekerjaan, pelayanan, atau kegiatan lainnya. Ketika saya menanyakan mengapa beliau selalu mengajak saya, maka beliau menjawab bahwa ia ingin menjaga kekudusan hidupnya, dan tidak mau membuka celah bagi dosa lewat lawan jenis atau orang ketiga.

Jikalau terpaksa beliau harus pergi sendirian, maka setelah pulang dari kegiatan tersebut suami akan bercerita panjang lebar siapa saja yang ditemui dan apa saja yang dilakukan tanpa perlu saya tanyakan. Ketika berkhotbah, ia selalu memperkenalkan saya sebagai istrinya. Saat berfoto bersama, terutama dengan wanita dewasa, ia meminta saya ikut berdiri di sampingnya. Jika ada telepon dari wanita yang tidak saya kenal, ia meminta saya yang mengangkat atau menggunakan pengeras suara. Jika ada tamu wanita dan saya tidak berada di rumah, ia tidak mempersilakan masuk.

Saya pun melakukan hal yang sama. Kami menjaga batasan dengan sadar. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena kami tidak mau membuka celah sekecil apa pun.

Kesetiaan bukan hanya soal tidak melakukan hubungan fisik dengan orang lain. Kesetiaan adalah menjaga hati, pikiran, dan batasan.

Setia Sampai Akhir Adalah Keputusan

Setia sampai akhir bukan tentang perasaan yang selalu berbunga-bunga. Akan ada hari-hari yang sulit, masa-masa kering, dan perbedaan-perbedaan. Tetapi justru di situlah komitmen diuji.

Pernikahan bukan kontrak yang bisa dibatalkan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Pernikahan adalah janji yang diikrarkan di hadapan Tuhan dan manusia. Janji itu bukan hanya untuk masa-masa indah, tetapi juga untuk musim kehidupan yang penuh tantangan.

Jangan salah pilih pasangan hidup. Pilihlah dengan doa, pertimbangan yang matang, serta kesamaan iman dan nilai hidup. Setelah memilih, jagalah dengan sungguh-sungguh. Bangun rumah tangga di atas firman Tuhan. Pelihara keterbukaan. Selesaikan amarah sebelum menjadi kepahitan. Tutup setiap celah bagi orang ketiga.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa mewah pesta pernikahan yang menentukan kebahagiaan, melainkan seberapa kuat komitmen untuk tetap setia sampai akhir.

Sebab kesetiaan itu mahal harganya. Tidak semua orang mampu memilikinya. Tidak semua orang sanggup menjaganya. Kesetiaan bukan milik mereka yang hanya mengandalkan perasaan, tetapi milik mereka yang memiliki karakter, integritas, dan takut akan Tuhan.

Kesetiaan menuntut kerendahan hati untuk meminta maaf. Kesetiaan menuntut kedewasaan untuk mengalah. Kesetiaan menuntut keberanian untuk menjaga batasan ketika godaan datang. Itulah sebabnya kesetiaan menjadi begitu berharga karena hanya orang-orang tertentu yang mau membayar harga untuk menjaganya.

Namun ketika kesetiaan itu dipelihara, hasilnya luar biasa. Ia menghadirkan damai, kehormatan, dan warisan yang indah bagi orang terdekat, keluarga dan generasi berikutnya. Kesetiaan menjaga martabat. Kesetiaan membangun kepercayaan. Kesetiaan membuat pernikahan tetap kokoh sampai akhir.

Dan saya percaya, ketika dua orang sungguh-sungguh memilih untuk setia dan hidup dalam kebenaran, Tuhan sendiri yang akan memelihara pernikahan mereka sampai akhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *