Bahaya Kalau Sibuk Tanpa Visi

Artikel97 Dilihat

Di dalam kehidupan rohani dan pelayanan, kesibukan sering kali dianggap sebagai tanda kesetiaan dan “Dipakai Tuhan”. Banyak orang merasa bahwa selama mereka aktif ikut ibadah, terlibat pelayanan, hadir di berbagai kegiatan rohani maka mereka pasti sedang berjalan dalam kehendak Tuhan.

Namun, ada satu kenyataan yang tidak boleh kita abaikan bahwa Kesibukan rohani tidak selalu berarti hidup dalam kehendak Tuhan.

Bahkan, jika tidak berhati-hati, kesibukan tanpa visi justru bisa menjadi salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan seorang percaya terutama bagi seorang pemimpin rohani.

Sibuk tanpa visi adalah awal dari kehilangan arah

Seseorang bisa melakukan banyak hal, tetapi tetap tidak sampai ke tujuan. Mengapa? Karena ia tidak tahu ke mana ia sedang berjalan. Ia hanya ke sana ke mari supaya terlihat sibuk. Jika seseorang sibuk tanpa visi  maka hidupnya dipenuhi berbagai kegiatan; ikut pelayanan ini itu, hadir di berbagai acara dan terlibat di berbagai komunitas.  Namun tidak ada arah yang jelas. Tidak ada fokus. Tidak ada benang merah yang menghubungkan semuanya.

Amsal 29:18 berkata:
“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.”

Tanpa visi, hidup menjadi liar atau tidak terarah. Dan hidup yang tidak terarah, pada akhirnya akan kehilangan tujuan.

Kesibukan bisa menjadi pengganti keintiman

Ini bahaya yang lebih dalam. Ada orang yang sangat sibuk dalam pelayanan, tetapi sebenarnya jarang berdiam diri di hadapan Tuhan, jarang mendengar suara-Nya, dan jarang membangun hubungan pribadi yang dalam dengan-Nya.

Kesibukan sekadar menjadi “penutup” dari kekosongan. Padahal Yesus memberi teladan yang berbeda. Dalam Yohanes 5:19 tertulis:
“Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya…”

Yesus tidak digerakkan oleh kebutuhan untuk sibuk, tetapi oleh hubungan dengan Bapa. Hubungan dengan Bapa itulah yang membuat Yesus tepat sasaran dan tidak membuang waktu percuma.

Tanpa keintiman, pelayanan akan kehilangan arah. Tanpa hubungan yang intim dengan Tuhan, aktivitas hanya menjadi rutinitas kosong.

Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk melakukan semuanya

Banyak orang berpikir: “Selama itu kegiatan atau hal rohani, saya harus ikut.” Ini terlihat baik, tetapi sebenarnya bisa menjadi tanda bahwa seseorang tidak fokus dan tidak tahu panggilannya.

Padahal Alkitab jelas berkata: “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.” (1 Korintus 12:18)

Artinya setiap orang punya bagian, setiap orang punya fungsi dan setiap orang punya panggilan yang spesifik. Sebagai contoh; Bagaimana panggilan untuk Petrus dan Paulus itu berbeda. Petrus diutus untuk memberitakan Injil ke orang-orang Yahudi (Galatia 2:7-8), sementara Paulus diutus khusus kepada bangsa-bangsa Non-Yahudi (Roma 11:13).

Penulis sebagai seorang hamba Tuhan juga menyadari bahwa penulis dipanggil bukan hanya untuk menyampaikan firman Tuhan dalam gereja atau kegiatan gereja tetapi juga untuk terjun ke bidang media, film dan entertainment.

Tiap orang punya kapasitas dan jalan yang berbeda. Apa yang dilakukan si A belum tentu bisa dilakukan si B dengan maksimal. Demikian juga sebaliknya. Jika seseorang terus ikut semua hal tanpa penyaringan, itu bukan ketaatan tetapi ia masih bingung atau belum tahu panggilannya.

Mengaku punya visi, tapi hidup tidak menunjukkan arah

Tidak sedikit orang berkata, “Saya punya visi dari Tuhan.” Namun setelah waktu berjalan hidupnya tetap kesana kemari, tidak ada konsistensi dan tidak ada fokus yang jelas. Di titik ini, kita perlu jujur bahwa visi dari Tuhan akan mulai terlihat dalam arah hidup.

Memang, visi tidak selalu langsung besar atau sempurna. Tetapi akan ada kecenderungan yang jelas, akan ada keputusan yang selaras dan akan ada langkah yang konsisten.

Firman Tuhan berkata, “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.” (Amsal 4:25-26)

Orang yang punya visi mungkin saat ini masih dalam proses, tetapi hidupnya terarah.

Sibuk tanpa visi membuat seseorang mudah terombang-ambing

Efesus 4:14 berkata:
“sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”

Orang yang tidak punya visi juga gampang ikut tren rohani, mudah terpengaruh orang lain, dan mudah berpindah tanpa komitmen tergantung mood-nya. Hari ini ikut ini, besok ikut itu, lalu berikutnya pindah lagi. Bukan karena Tuhan yang memimpin, tetapi karena tidak ada akar yang kuat dalam hidupnya. Banyak orang akan ikut kegiatan-kegiatan rohani yang menguntungkan dirinya dan supaya terlihat sibuk. Ini bahaya yang sering tidak disadari. Tidak semua aktivitas rohani lahir dari kerinduan yang benar. Ada yang sebenarnya bukan lapar akan Tuhan tetapi tetapi haus akan pengalaman rohani atau pengakuan orang lain. Akibatnya terus mencari suasana baru, dan mengejar atau mengikuti berbagai kegiatan.

Dampak serius dari hidup yang sibuk tanpa visi

Jika seseorang terus hidup tanpa visi yang jelas, ia akan mengalami:

a. Kelelahan rohani
b. Kehilangan arah hidup
c. Pelayanan menjadi dangkal
d. Tidak menghasilkan buah yang nyata

Yesus sendiri berkata:
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5)

Tanpa kita tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita, semua aktivitas menjadi sia-sia.

Tuhan mencari ketaatan, bukan kesibukan

Firman Tuhan mengatakan;
“Tetapi jawab Samuel: “Apakah Tuhan berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih  baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22)

Tuhan tidak terkesan dengan banyaknya pelayanan atau padatnya jadwal tetapi Tuhan melihat apakah kita mendengar atau apakah kita taat. Kesibukan bisa dilihat oleh manusia tetapi ketaatan dilihat oleh Tuhan. Dan setiap ketaatan diperhitungkan oleh Tuhan.

Ciri-ciri orang yang hidup dalam visi dari Tuhan

Berbeda dengan yang sibuk tanpa arah, orang yang hidup dalam visi memiliki tanda yang jelas, yaitu:

a. Fokus
Ia tahu persis apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

b. Konsisten
Terus berjalan dan tidak mudah berubah karena apa kata orang atau mengikuti tren.

c. Berani berkata “tidak”
Tidak semua kesempatan harus diambil.

d. Menghasilkan buah
Hidupnya berdampak bagi orang lain dan mempermuliakan nama Tuhan.

e. Ia bukan sekadar follower, tetapi hidup sebagai leader yang dipimpin oleh Tuhan.

Ini bukan soal jabatan, tetapi soal cara hidup. Seseorang bisa saja tidak memiliki posisi sebagai pemimpin, tetapi tetap hidup sebagai leader dalam kebenaran karena Roh Kudus yang memimpinnya.

Waktu untuk berhenti dan mengevaluasi

Ini bukan tentang menghakimi orang lain, tetapi tentang memeriksa diri sendiri.

Tanyakan dengan jujur dalam diri kita saat ini.

  • Apakah saya benar-benar dipimpin Tuhan atau hanya keinginan saya sendiri? Atau saya hanya sibuk karena banyak kesempatan?
  • Apakah hidup saya punya arah yang jelas? Atau saya hanya mengikuti arus?

Kadang masalahnya bukan Tuhan tidak berbicara, tetapi kita mau berhenti sejenak dan fokus untuk mendengar suara Tuhan. Mendengarkan dan melakukan apa yang Ia mau bukan apa yang kita mau.

Kesimpulan

Sibuk dalam pelayanan bukanlah bukti bahwa seseorang berjalan dalam kehendak Tuhan. Tanpa visi, kesibukan bisa menjadi jebakan, pengalihan, bahkan jalan menuju kelelahan rohani. Kelelahan rohani bisa berakibat fatal. Hubungan dengan Tuhan bisa bermasalah karena tidak memiliki kepekaan dan kehilangan semangat. Ketika seseorang sudah tidak memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan maka ia akan sulit membedakan mana suara Tuhan, keinginannya sendiri atau suara iblis. Ketika seseorang sudah kehilangan semangat ia akan menjadi suam-suam kuku. Dan orang yang suam-suam kuku akan dimuntahkan oleh Tuhan (Wahyu 3:16)

Bahaya kalau kita sibuk tanpa visi karena Tuhan tidak mencari orang yang paling sibuk pelayanan, tetapi orang yang hidup dalam ketaatan dan visi yang jelas dari Tuhan. Pada akhirnya, yang bernilai di hadapan Tuhan bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa tepat kita melakukan apa yang Dia kehendaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *