Ketika Iblis Tidak Senang, Itu Tanda Anda Sedang Hidup Benar di Hadapan Tuhan

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel18 Dilihat

Dalam perjalanan hidup orang percaya, sering kali muncul satu pengalaman yang cukup membingungkan. Ketika seseorang mulai hidup lebih sungguh-sungguh dengan Tuhan, lebih rajin berdoa, lebih serius membaca firman, dan lebih berusaha hidup benar, justru berbagai tantangan dan masalah mulai bermunculan. Tekanan datang dari berbagai arah. Godaan terasa lebih kuat. Bahkan tidak jarang muncul kesalahpahaman, fitnah, atau penolakan dari orang lain.

Hal ini kadang membuat seseorang bertanya dalam hatinya: Apakah saya sedang melakukan sesuatu yang salah? Mengapa ketika saya berusaha hidup benar justru banyak masalah datang? Mengapa orang lain Tuhan tolong tapi saya tidak?

Namun Alkitab memberikan gambaran yang jelas bahwa hal seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh. Bahkan sering kali justru menjadi tanda bahwa seseorang sedang berjalan di jalan yang benar. Ketika seseorang mulai hidup dalam terang dan kebenaran, Iblis tidak akan tinggal diam.

Alkitab berkata dalam 1 Petrus 5:8:

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”

Iblis selalu berusaha mengganggu kehidupan orang percaya. Ia tidak senang melihat seseorang hidup dekat dengan Tuhan, hidup dalam kekudusan, dan hidup melakukan perintah Tuhan. Karena itu ia berusaha menakut-nakuti, menggoda, dan menggoyahkan iman bahkan mencengkeram seseorang dengan tipuan dan dosa.

Namun orang yang berjalan bersama Tuhan tidak perlu hidup dalam ketakutan. Justru ketika kita menghadapi tekanan karena hidup benar, kita bisa melihatnya sebagai pengingat bahwa kita sedang berada di jalur yang benar di hadapan Tuhan.

Hidup Kudus di Tengah Dunia yang Tidak Kudus

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk hidup dalam kekudusan. Kekudusan bukan sekadar istilah rohani, tetapi sebuah gaya hidup yang mencerminkan karakter Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Alkitab berkata dalam 1 Petrus 1:15–16:

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Hidup kudus berarti memilih untuk hidup benar di tengah dunia yang sering kali memilih jalan yang berbeda. Dunia sering menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa. Banyak orang menganggap kebohongan kecil, kompromi, atau ketidakjujuran sebagai hal yang normal.

Namun orang yang ingin hidup kudus tidak mengikuti arus dunia. Ia memilih untuk tetap berjalan dalam kebenaran meskipun tidak selalu mudah.

Sering kali pilihan ini membawa konsekuensi. Ada orang yang tidak suka melihat orang lain hidup benar. Ada yang merasa terganggu karena kehidupan yang benar menjadi seperti cermin yang memperlihatkan kesalahan mereka. Ketika saya sering mengkhotbahkan tetang bagaimana kita harus hidup kudus, ada orang-orang yang menganggapnya menghakimi mereka padahal bukan saya melainkan Firman Tuhan sendiri yang menghakimi. Apalagi sebagai hamba Tuhan atau pelayan Tuhan kalau hidupnya tidak kudus, apa yang mau iajarkan atau dibagikan kepada orang lain atau jemaat? Hanya jadi tertawaan iblis karena ada “celah” yang terbuka. Itu sebabnya mengapa ada orang yang mengaku “kristen” masih bisa kena santet atau guna-guna karena tidak hidup kudus.

Dalam perjalanan hidup kita, tekanan bisa saja muncul. Tetapi Tuhan menghargai kehidupan yang kudus. Salah satu contoh yang sangat jelas tentang serangan Iblis terhadap kehidupan yang benar terlihat dalam kehidupan Yesus sendiri. Setelah Yesus dibaptis dan sebelum Ia memulai pelayanan-Nya, Ia menghadapi pencobaan yang berat di padang gurun.

Alkitab mencatat dalam Matius 4:1:

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.”

Iblis mencoba menggoyahkan Yesus dengan berbagai cara. Ia mencoba memanfaatkan kebutuhan jasmani Yesus yang sedang lapar. Ia mencoba menawarkan kekuasaan dunia. Bahkan ia mencoba memutarbalikkan firman Tuhan. Namun Yesus menghadapi setiap pencobaan dengan firman Tuhan. Setiap kali Iblis mencobai-Nya, Yesus menjawab dengan berkata, “Ada tertulis…” Pada akhirnya Iblis pun meninggalkan-Nya.

Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan Anak Allah pun menghadapi pencobaan. Jika Yesus saja menghadapi serangan, maka tidak mengherankan jika kita sebagai orang percaya dan pengikut Yesus juga mengalaminya. Namun kemenangan tetap ada bagi mereka yang tetap setia kepada firman Tuhan.

Tetap Tenang di Tengah Badai

Ketika tekanan datang, reaksi manusia sering kali adalah panik, marah, atau takut. Namun Tuhan memanggil umat-Nya untuk memiliki sikap yang berbeda.

Alkitab berkata dalam Yesaya 30:15:

“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: ‘Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.’”

Ketenangan adalah tanda kepercayaan kepada Tuhan. Orang yang percaya bahwa Tuhan memegang kendali tidak perlu hidup dalam kepanikan.

Ketenangan bukan berarti kita tidak menghadapi masalah. Ketenangan berarti kita tahu bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita.

Daniel adalah seorang pejabat yang setia kepada Tuhan. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, berintegritas, dan tidak terlibat dalam korupsi. Hal ini membuat banyak orang iri kepadanya.

Mereka mencoba mencari kesalahan dalam pekerjaan Daniel, tetapi tidak menemukan apa pun. Akhirnya mereka merancang sebuah rencana untuk menjebak Daniel melalui imannya kepada Tuhan. Ketika kita hidup benar di hadapan Tuhan, akan ada orang-orang yang merasa ‘kepanasan’ dan berusaha mencari kesalahan dan kelemahan kita untuk dijadikan bahan gosip untuk menjatuhkan kita. Mereka akan berusaha menemukan sehingga hal-hal sepele atau remehpun bisa jadi ‘bahan’ bagi mereka untuk menjelekkan dan menjatuhkan.

Dalam kisah Daniel, orang-orang yang iri itu meminta raja untuk membuat hukum yang melarang orang berdoa kepada siapa pun selain raja. Siapa pun yang melanggar akan dilemparkan ke dalam gua singa. Namun Daniel tidak mengubah kebiasaannya. Daniel 6:11 berkata:

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”

Daniel tidak takut atau panik. Ia tidak berusaha menyembunyikan imannya. Ia tetap hidup setia berdoa kepada Tuhan. Akibatnya ia dilemparkan ke dalam gua singa. Namun Tuhan menutup mulut singa-singa itu dan menyelamatkan Daniel. Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup benar di hadapan-Nya.

Serangan, godaan, atau tekanan yang datang karena iman kita tidak perlu membuat kita gentar. Justru hal itu mengingatkan kita bahwa kita sedang berjalan bersama Tuhan.

Alkitab berkata dalam Yakobus 4:7:

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu.”

Kemenangan orang percaya tidak datang dari kekuatan sendiri, tetapi dari ketaatan kepada Tuhan. Ketika kita tunduk kepada Tuhan dan hidup menurut firman-Nya, Iblis tidak memiliki kuasa atas hidup kita.

Alkitab tidak mengatakan bahwa orang benar tidak akan mengalami kesulitan. Bahkan sering kali justru sebaliknya. Namun Tuhan memberikan janji yang sangat kuat. Mazmur 34:20 berkata:

“Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.”

Orang benar memang bisa mengalami banyak kesulitan. Tetapi Tuhan tidak meninggalkan mereka di dalam kesulitan itu.

Ia hadir sebagai penolong dan pembela. Sering kali Tuhan bekerja dengan cara yang tidak kita duga. Kadang Ia memberikan jalan keluar. Kadang Ia memberikan kekuatan untuk melewati badai. Tetapi satu hal yang pasti: Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Penutup

Jika dalam hidup kita saat ini mulai muncul banyak tekanan karena kita memilih hidup benar, jangan langsung berpikir bahwa kita sedang berada di jalan yang salah. Ketika seseorang hidup dalam dosa, Iblis tidak perlu mengganggunya. Tetapi ketika seseorang mulai hidup dalam terang, ia menjadi ancaman bagi pekerjaan kegelapan. Kegelapan selalu terganggu oleh terang. Iblis selalu gelisah melihat orang yang hidup kudus. Ketika Iblis tidak senang melihat hidup kita, sering kali itu adalah tanda bahwa kita sedang berjalan di jalan yang benar di hadapan Tuhan. Sama seperti Tuhan membela dan menolong Daniel di gua singa, Dia juga akan membela kita di tengah badai kehidupan. Jangan takut, tetaplah setia dan hidup kudus, sebab Tuhan yang kita sembah adalah pembela dan penolong kita yang setia, dan Dia tidak akan membiarkan kita jatuh dalam pencobaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *