Kemenangan Dalam Senyap

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel87 Dilihat

Dalam kehidupan ini, sering kali kita mengaitkan kemenangan dengan sesuatu yang besar, terlihat, dan diakui banyak orang. Kita membayangkan kemenangan sebagai keberhasilan yang disorot, doa yang dijawab secara spektakuler, mendapatkan berkat keuangan yang berlimpah atau pencapaian yang membuat orang lain kagum. Namun Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua kemenangan bersifat lahiriah. Ada jenis kemenangan yang jauh lebih dalam, lebih murni, dan sering kali tidak terlihat oleh manusia yaitu kemenangan dalam senyap.

Kemenangan dalam senyap adalah kemenangan yang terjadi di dalam hati, dalam pergumulan pribadi, dalam air mata yang tidak dilihat orang lain, dan dalam ketaatan yang tidak mendapatkan pujian. Ini adalah kemenangan yang hanya diketahui oleh Tuhan dan orang yang mengalaminya. Dan justru di situlah letak kekuatannya.

Tuhan Melihat Apa yang Tersembunyi

Dalam Ibrani 4:13 dituliskan, “Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”

Yesus sendiri mengajarkan bahwa persekutuan pribadi dengan Tuhan tidak perlu dipamerkan.

Dalam Matius 6:6, Yesus berkata:

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja di tempat yang tersembunyi. Dunia mungkin tidak melihat doa-doa kita di tengah malam, pergumulan kita melawan dosa, atau usaha kita untuk tetap setia di saat sulit. Tetapi Tuhan melihat dan mendengar semuanya.

Kemenangan dalam senyap sering terjadi di ruang pribadi di mana tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan, hanya hubungan antara kita dan Tuhan. Keintiman antara kita dengan Tuhanlah yang Tuhan sangat inginkan.

Kemenangan Sejati Dimulai dari Hati

Banyak orang ingin menang di luar, tetapi tidak mau berperang di dalam. Padahal, Alkitab menunjukkan bahwa pertempuran terbesar manusia ada di dalam hatinya.

Amsal 4:23 berkata:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Kalau kita masih memiliki rasa iri, sakit hati, marah, kecewa dan kepahitan dengan seseorang berarti kita belum menang. Menang atas kemarahan, iri, sakit hati, kepahitan, atau keinginan untuk membalas adalah kemenangan yang besar, meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Ketika seseorang memilih mengampuni dalam diam, memilih tetap rendah hati ketika direndahkan, atau memilih tetap percaya ketika keadaan tidak berubah, ia sedang mengalami kemenangan yang sejati.

Kemenangan seperti ini tidak menghasilkan sorak-sorai manusia, tetapi menghasilkan damai sejahtera dari Tuhan.

Ujian Iman dalam Relasi

Dalam perjalanan hidup, tidak semua orang akan tetap bersama kita. Ada masa di mana kita merasa ditinggalkan, tidak dipahami, atau bahkan dilupakan oleh orang-orang yang dulunya dekat.

Terkadang ketika ada orang-orang yang mulai meninggalkan kita disitu iman kita diuji. Apakah pengharapan kita tergantung kepada orang-orang tersebut atau kepada Tuhan?

Pertanyaan ini sangat penting. Karena sering kali tanpa sadar, kita menaruh harapan kita pada manusia—pada dukungan, perhatian, atau penerimaan mereka. Ketika itu hilang, kita merasa kehilangan arah.

Namun Tuhan ingin membawa kita pada kedewasaan iman: bahwa pengharapan sejati hanya ada di dalam Dia.

Mazmur 62:6 berkata:

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”

Kemenangan dalam senyap terjadi ketika kita tetap berdiri teguh meskipun orang lain memilih pergi. Ketika kita tetap percaya bahwa Tuhan itu ada bersama dengan kita meski yang lain mulai meragukan.

Yesus Merupakan Teladan Kemenangan dalam Senyap

Yesus Kristus adalah teladan terbesar dari kemenangan dalam senyap. Banyak bagian dari kehidupan-Nya tidak dicatat secara detail, tetapi kita tahu bahwa Ia menjalani kehidupan yang penuh ketaatan kepada Bapa, bahkan dalam kesendirian.

Dalam Filipi 2:8 tertulis:

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Di mata dunia, salib tampak seperti sebuah kekalahan. Tidak ada kemuliaan, tidak ada kehormatan, hanya penderitaan, kehinaan, penolakan dan kesendirian. Namun justru di situlah kemenangan terbesar terjadi ketika Yesus menjalani proses tersebut dengan penuh ketaatan maka Ia mengalami kemenangan atas dosa dan maut.

Yesus tidak berusaha membuktikan diri kepada manusia. Ia tidak mencari pengakuan dunia. Ia memilih untuk taat, bahkan dalam kesunyian dan penderitaan.

Daud Menang Sebelum Terlihat

Kisah Daud juga mengajarkan kita tentang kemenangan dalam senyap. Sebelum ia dikenal sebagai raja Israel, ia adalah seorang gembala yang tidak dianggap oleh keluarganya sendiri.

Dalam 1 Samuel 17:34-36 diceritakan;

“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,
maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Tidak ada yang melihat ketika Daud melawan singa dan beruang. Tidak ada yang bertepuk tangan atau memuji keberaniannya. Namun di tempat tersembunyi itulah, Tuhan membentuk keahlian, keberanian dan imannya.

Ketika pada akhirnya Daud mengalami kemenangan saat menghadapi Goliat, itu bukanlah kemenangan pertama Daud, melainkan kelanjutan dari kemenangan-kemenangan kecil dalam senyap.

Ketaatan Tanpa Pengakuan Orang Lain

Sering kali kita tergoda untuk melakukan sesuatu agar dilihat dan dihargai orang lain. Namun iman sejati diuji ketika kita tetap taat meskipun tidak ada yang memperhatikan.

Kolose 3:23 mengingatkan:

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Kemenangan dalam senyap adalah ketika kita tetap melakukan yang benar, meskipun tidak ada pujian. Proses yang Tidak Terlihat

Tuhan sering bekerja dalam proses yang panjang dan tersembunyi. Seperti benih yang ditanam di dalam tanah tidak terlihat, tetapi sedang bertumbuh.

Pengkhotbah 3:11 berkata: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

Waktu Tuhan itu yang terbaik. Banyak orang menyerah karena mereka tidak melihat hasil. Padahal, justru dalam masa tidak terlihat itulah Tuhan sedang membentuk kita.

2 Korintus 12:9 berkata:

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Kemenangan dalam senyap sering terjadi ketika kita memilih tetap percaya di tengah kelemahan dan di tengah ketidak pastian secara hitung-hitungan atau  pandangan manusia.

Buah dari Kemenangan yang Senyap

Yakobus 1:3-4 mengatakan:

“sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”

Apa yang dibentuk dalam diam sering kali jauh lebih bernilai daripada yang terlihat.

Saya teringat pada waktu saya dan Vinod, calon suami saya saat itu, masih berproses dalam menjalin hubungan ke arah yang lebih serius setelah berteman selama lima tahun. Beliau mengatakan bahwa kami tidak usah “publish” hubungan kami di medsos atau ngomong ke orang-orang. Saya sempat protes namun akhirnya setuju karena beliau mengatakan bahwa lebih baik “diam-diam” tetapi akhirnya menikah daripada ngomong-ngomong ke orang, posting foto berduaan tetapi pada akhirnya bisa batal atau tidak jadi menikah. Itu akan membuat malu kedua pihak. Puji Tuhan, setelah tujuh tahun berteman, akhirnya kami menikah.

Mazmur 37:7a berkata:

“Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia;”

Ada kalanya kita cukup berdiam diri di hadapan Tuhan dan menantikan-Nya. Tidak semua harus diketahui orang lain. Kemenangan dalam senyap mengajarkan kita untuk percaya tanpa harus membuktikan diri kepada dunia.

Menang di Hadapan Tuhan

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah apakah orang lain melihat kemenangan kita, tetapi apakah Tuhan berkenan atas hidup kita. Tetaplah setia, meskipun tidak terlihat. Tetaplah percaya, meskipun terasa sendiri karena Tuhan bisa sedang bekerja dalam senyap sekalipun tanpa tepukan tangan atau sorak-sorai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *