Kita Sedang Berlari di Putaran Terakhir

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel42 Dilihat

Coba bayangkan saat kita sedang menonton sebuah perlombaan lari jarak jauh di sebuah stadion olahraga. Semua pelari sudah melewati banyak putaran. Mereka sudah berkeringat dan nafas terengah-engah. Lalu terdengar suara tembakan yang menandakan ‘Putaran terakhir!’. Dan seketika semuanya terasa berbeda. Para pelari berusaha memaksimalkan kekuatannya tetapi tenaga mereka hampir habis. Dan saat merasa “sebentar lagi selesai”, justru di situ bahaya terbesar.

Begitulah keadaan kita hari-hari ini. Kita sedang dalam perlombaan iman. Saya menuliskan hal ini agar kita semua menyadari sekarang bukan waktu untuk santai. Kita tidak hidup di zaman yang biasa. Dunia berubah sangat cepat. Apa yang dulu jelas disebut dosa, sekarang dianggap wajar. Kekudusan dianggap berlebihan. Orang yang serius dengan Tuhan kadang dianggap sok suci atau terlalu fanatik.

Ini bukan sekadar perubahan zaman. Ini perubahan yang mengerikan. Saya beberapa kali menyampaikan hal ini dalam khotbah di sebuah gereja atau persekutuan.

Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 9:26, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan…”

Paulus tahu hidup orang percaya itu seperti sebuah perlombaan. Bukan jalan santai. Bukan sekadar kegiatan agama. Ini perjalanan yang menentukan kekekalan. Dan sekarang, kita mungkin sedang ada di putaran terakhir tersebut.

Bahaya Terbesar Justru Ada di Garis Akhir

Di awal perlombaan biasanya semua orang penuh semangat seperti api yang berkobar-kobar. Di awal pelayanan biasanya kita rajin, kita bergairah. Di awal pertobatan biasanya kita menangis penuh penyesalan dan berjanji setia kepada Tuhan. Tetapi setelah bertahun-tahun berjalan, banyak yang mulai kehilangan api, mulai lelah, mulai santai dan merasa biasa saja. Mulai kompromi dengan sedikit demi sedikit apa kata orang atau dengan dosa, bukan lagi dengan apa kata firman Tuhan.

Hari-hari ini adalah masa ujian. Iman diuji. Kesetiaan diuji. Karakter diuji. Sedikit saja lengah, bisa jatuh sebelum garis akhir.

Ada 2 hal yang perlu kita waspadai:

1. Waspada Hati yang Kosong dan Kehilangan Api

Inilah bahaya yang paling halus. Dari luar terlihat rohani. Tetap ke gereja. Tetap melayani. Tetap berdoa. Tetap tersenyum ramah kepada orang lain. Tetapi di dalam dirinya hampa.

Pelayanan berubah menjadi rutinitas.
Doa menjadi formalitas.
Firman tidak lagi menggetarkan hati.

Banyak orang terlihat sibuk, tetapi kesibukan itu sering kali hanya pelarian. Pelarian dari kesepian. Pelarian dari penolakan. Pelarian karena patah hati. Pelarian untuk menutupi luka bahkan pelarian untuk menutupi dosa.

Alkitab memperingatkan dalam 2 Tesalonika 3:11 tentang orang-orang yang sibuk dengan hal yang tidak berguna. Hari ini banyak orang sibuk dengan pertemuan tanpa visi, percakapan tanpa makna, aktivitas tanpa arah. Terlalu banyak waktu untuk menonton media sosial. Terlalu banyak energi untuk urusan orang lain. Terlalu sedikit waktu untuk doa. Terlalu jarang membuka dan membaca Alkitab dengan sungguh-sungguh bahkan sangat jarang bertanya kepada Tuhan apa yang Tuhan mau ia lakukan.

Putaran terakhir menuntut fokus. Bukan aktivitas yang lebih banyak, tetapi kedekatan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Di sisi lain, ada hati yang menyimpan kepahitan dan kemarahan. Efesus 4:31 berkata,
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”

Kepahitan dan kemarahan itu seperti membawa beban saat berlari. Tidak mungkin mencapai garis akhir dengan hati penuh dendam. Banyak orang kehilangan semangat bukan karena Tuhan tidak baik, tetapi karena hati mereka penuh luka yang tidak pernah dibereskan.

Ada juga yang tidak jatuh dalam dosa besar, tetapi kehilangan api. Mengapa? Karena ada doa yang belum dijawab. Ada pergumulan yang belum selesai. Ada harapan yang terasa tertunda. Hati yang patah karena bertepuk sebelah tangan. Lalu hati menjadi tawar.

Namun firman Tuhan berkata dalam Efesus 6:10, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

Kekuatan kita bukan dari pengalaman rohani masa lalu. Bukan dari jabatan pelayanan. Bukan dari lamanya kita di gereja. Jika kita menjauh dari Sumber kekuatan itu, kita pasti menjadi lemah. Putaran terakhir bukan tentang terlihat rohani tetapi tentang hati yang tetap menyala.

2. Waspada Saat Berada Di Atas Angin

Saat situasi kita sedang berada di atas angin, kita harus mewaspadai jangan sampai:

a. Kompromi dengan dosa

Kompromi dengan dosa dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Misalnya ketika berkenalan dengan seseorang yang merupakan suam atau istri orang lain di sebuah acara. Mulai berkomunikasi chat lewat Hp. Lama-kelamaan semakin akrab dan sering bertemu dan terjadi hubungan asmara. Lalu perlahan menjadi kebiasaan yang mengikat. Kompromi dengan dosa adalah langkah pertama menuju kejatuhan. Ketika dosa menjerat, akal sehat menjadi tumpul dan suara hati perlahan dibungkam. Dosa dapat menghancurkan karakter, karir, keluarga dan masa depan. Yakobus 1:14-15 berkata, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”

b. Menjadi Sombong

“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Kesombongan tidak selalu terlihat kasar. Ia sering datang dengan halus. Misalnya; merasa lebih rohani dari orang lain, merasa lebih berilmu tentang Alkitab dibanding yang lain, merasa sudah lama melayani sehingga tidak perlu ditegur, merasa pengalaman rohani sudah cukup untuk membuat diri kebal terhadap kejatuhan. Kesombongan dalam hal harta kekayaan juga banyak ditemukan. Ketika kekayaan mulai menjadi sandaran karena memiliki banyak uang, ia merasa seolah-olah segalanya dapat dibeli dan siapa pun dapat dibayar. Dengan uang ia bisa mengatur keadaan, mempengaruhi keputusan, bahkan membungkam kebenaran. Padahal di hadapan Tuhan, uang tidak bisa membeli keselamatan. Jabatan dan kekuasaan tidak bisa membeli hidup yang kekal.

Kesombongan membuat seseorang berhenti bergantung pada Tuhan dan mulai bergantung pada diri sendiri. Dan ketika ketergantungan kepada Tuhan hilang, kejatuhan hanya soal waktu. Kesombongan bisa merusak dalam sekejap apa yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Siapa yang Akan Menjadi Pemenang?

Banyak orang dapat memulai dengan baik, tetapi tidak semua mampu mengakhiri dengan baik. Rasul Paulus pernah berkata dalam 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Ia bukan hanya menuliskan atau mengajarkan kebenaran itu, tetapi ia menghidupinya. Pada akhirnya, bukan harta kekayaan, bukan popularitas, dan bukan jabatan tinggi yang membuat seseorang berkenan di hadapan Tuhan. Orang-orang yang tetap berdiri teguh, tetap kuat di dalam Tuhan, dan terus memelihara iman sampai garis akhir, merekalah yang disebut pemenang dan akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *