Tidak Ada Jalan Tengah: Hidup Kudus atau Ikut Arus?

Jenie A. F. Rintjap (Pemimpin Redaksi Hesybon Media)

Artikel51 Dilihat

Kita sedang hidup di zaman yang terasa aneh. Apa yang dulu jelas disebut salah, sekarang dianggap wajar. Dosa dibungkus dengan istilah “pilihan pribadi”, sementara kekudusan sering dicap fanatik dan ketinggalan zaman. Standar dunia terus berubah mengikuti opini dan tren, tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah: kekudusan Tuhan. Firman Tuhan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16). Itu bukan sekadar kalimat indah atau motivasi rohani untuk dibagikan di media sosial. Itu adalah perintah dari Tuhan sendiri. Tuhan Sang Pemilik alam semesta ini, termasuk diri kita.

Dunia hari-hari ini tidak lagi menghadirkan dosa dengan wajah menyeramkan. Dosa datang dengan kemasan modern, logis, bahkan terlihat relevan. Pornografi disebut hiburan pribadi, keserakahan disebut ambisi, kebohongan disebut strategi, dan kompromi disebut toleransi. Perlahan tetapi pasti, hati menjadi kebal. Apa yang dulu membuat kita gelisah di hadapan Tuhan, kini terasa biasa saja. Di situlah letak bahayanya: ketika orang percaya mulai kehilangan kemampuan membedakan terang dan gelap. Padahal Alkitab sudah mengingatkan, “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat,” (Yesaya 5:20a).

Hidup kudus sebenarnya bukan soal tampil religius atau terlihat rohani di gereja. Kekudusan bukan gaya lama yang sudah usang. Kekudusan adalah identitas. Kita berbeda bukan karena merasa lebih baik, tetapi karena kita milik Tuhan. Kita tidak bisa mengaku sebagai anak terang sambil menikmati kegelapan. Kita tidak bisa menyebut nama Tuhan tetapi hidup tanpa takut akan Dia. Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14a). Terang tidak bernegosiasi dengan gelap, tidak menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan tidak kehilangan jati diri hanya supaya diterima.

Sering kali kita menyalahkan dunia atas kemerosotan moral, tetapi jujur saja, yang menjatuhkan kita bukan selalu tekanan dari luar. Yang lebih berbahaya adalah kompromi kecil yang kita izinkan masuk ke dalam hati. Kalimat-kalimat sederhana seperti “cuma sekali”, “semua orang juga begitu”, atau “yang penting hati baik” perlahan membuka pintu. Dosa jarang menghancurkan hidup secara tiba-tiba; ia bekerja pelan-pelan, menggerogoti hati hingga suara Roh Kudus terdengar semakin samar. Padahal Roh Kudus tidak diberikan untuk diabaikan, melainkan untuk ditaati.

Memang, untuk hidup kudus ada harga yang harus dibayar. Kita mungkin dianggap aneh, kehilangan kesempatan, atau tidak populer. Namun apa artinya diterima dunia jika kita kehilangan hadirat Tuhan? Yesus sendiri berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Kekudusan mungkin membuat kita berbeda, tetapi justru di situlah kesaksian kita menjadi nyata.

Tuhan tidak sedang mencari orang yang sempurna tanpa cacat. Dia mencari hati yang mau dibentuk. Di tengah generasi yang serba kompromi, Tuhan mencari pribadi yang menjaga pikirannya, pelayan yang bersih motivasinya, pebisnis yang tetap jujur walau harus rugi, dan anak muda yang berani berkata “tidak” pada dosa. Kekudusan bukan tentang kesombongan rohani, melainkan tentang cinta kepada Tuhan. Jika kita sungguh mengasihi Dia, kita tidak akan nyaman hidup dalam hal-hal yang menyakiti hati-Nya.

Karena itu, ini bukan waktunya menjadi suam-suam kuku. Ini bukan waktunya main aman demi kenyamanan. Firman Tuhan berkata, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). Kalimat itu terdengar keras, tetapi kasih Tuhan memang kadang berbicara dengan tegas supaya kita tidak tersesat lebih jauh. Hidup kudus bukan pilihan tambahan bagi orang percaya; itu adalah panggilan. Bukan supaya kita terlihat suci atau merasa lebih rohani dari orang lain, tetapi supaya nama Tuhan dimuliakan melalui hidup kita.

Zaman boleh berubah, budaya boleh bergeser, dan teknologi boleh terus berkembang, tetapi Tuhan tetap kudus. Dan suatu hari nanti, kita semua akan berdiri di hadapan-Nya. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita hidup untuk menyenangkan dunia, atau menyenangkan Tuhan? Hidup kudus di zaman sekarang memang tidak mudah, tetapi justru karena sulit, ia menjadi kesaksian yang kuat. Kiranya kita menjadi generasi yang bukan hanya berbicara tentang Tuhan, melainkan sungguh mencerminkan pribadi-Nya.

Hidup kudus bukan tentang kesombongan rohani. Hidup kudus adalah tentang mengasihi Tuhan lebih dari apa pun. Kekudusan bukan sekadar aturan, melainkan hubungan yang intim dengan Tuhan yang Mahakudus. Dan ketika kita sungguh mengasihi Dia, kita akan memilih untuk tidak hanyut. Hari ini, pilihan ada di tangan kita; berani berbeda dengan memilih hidup kudus, atau ikut arus?

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *